Jangan Campuri Perangku

Manusia adalah makhuk paling tolol tapi paling sok tahu. Mereka suka menentukan apa yang baik buat orang lain padahal banyak yang tidak beres di dirinya sendiri. Bahkan dalam soal perkelahian. Bukannya begitu makhluk bernama manusia ini? Mereka selalu bertingkah lebih tahu, tangan sebelah mana yang mesti berayun meninju lawan padahal yang berkelahi adalah orang lain, bukan dirinya sendiri. Yang lebih menjengkelkan lagi mereka menyatakan pendapatnya kepada pecudang yang kalah itu setelah perkelahianya selesai. Tanpa sebelumnya mengetahui apakah pecundang itu puas dengan pertandingannya atau menyesali kekalahnnya. Jika, kau adalah salah satu dari manusia jenis bangsat yang dimaksud tuisan ini, aku harap kalian berumur panjang dan hidup kekal selamanya dalam ketololan yang kalian anut.

Begini, aku hidup dalam pertempuran yang kupilih, dan aku bukan dari jenis kalian yang menentukan semuanya tanpa sadar. Aku bukan dari jenis kalian yang bertekad mebungkam mulut musuh dengan segudang prestasi, sebab tujuan hidupku tidak serendah khayalan kalian tentang keindahan yang berselera murahan itu. Aku bukan dari jenis kalian yang bisa dipuaskan dengan segala kepalsuan yang terlanjur dinyatakan sabagai kebenaran tanpa dikiritisi terlebih dahulu. Aku tak heran, kalian bisa menerima semua ini begitu saja, mungkin aku sedikit membenarkan bahwa kejeniusan itu genetik, dia terbawa bersama kita sejak lahir. Artinya alam memang merancang kalian sebagai bagian dari kebodohan yang menghiasi bumi. Kegagalan kita adalah belum menciptakan tempat yang cocok bagi kebodohan, sementara taik sudah punya tematnya senidiri. Oh, makhluk malang, kalian sejatinya hipunan organisme yang mengawang-ngawang yang lebih nyaman menunggu kematian dari pada menyongsongnya. Kuharap setelah ini, kalian tumbuhkan keberanian itu dan memilih enyah dari dunia ini sesegera mungkin.

Aku bukan makhluk tolol macam kalian yang eksis dalam hasrat kebendaan. Yang eksistensinya hanya sebatas itu: sukses punya segudang harta benda, lalu bahagiakan keluarga. Aku bukan dari jenis kalian yang bahagianya adalah bahagiaku juga. Aku adalah makhluk yang hidup untuk bahagiaku sendiri.  Jika kebahagiaanku itu membuatmu bahagia mungkin bagimu itu bagus, yang jelas aku tidak peduli sama sekali. 

Aku bukan dari jenis kalian yang kepayahan menjaga perasaan orang lain. Bagiku yang perlu kujaga hanyalah asaku sendiri untuk menuju bahagia dalam definisiku dan menyatkannya dalam tindakan-tindakan yang kuyakini bakal membawaku ke sana tanpa peduli pendapatmu. Tanpa rasa lelah menjaga diri untuk tidak melukai perasaan siapa-siapa. Untuk apa kujaga prilakuku agar tidak melukai perasaanmu itu? Sementara yang selama ini peduli pada luka di hatiku hanyalah diriku sendiri. Dan sesungguhnya hatiku sudah tak bisa dilukai oleh siapa-siapa. Dia sudah betul-betul mati. Kini, kendali itu telah diambil alih dan dikuasai penuh oleh kesadarn yang bersemayam di kepalaku. Seandainya hatiku memang masih befungsi, pekerjaannya hanya satu ialah: mendukung rasa mual di perutku setiap kali mendengar, melihat tingkah laku kalian yang begitu tolol, yang saking tololnya sudah tak dapat dihargai dengan apa-apa sekalipun itu hanya tawa yang menghina.

Sebetulnya sia-sia segala kata-kata yang tertulis di sini, sebab kalian memang begitu tolol untuk mengerti bahkan untuk sekedar tahu  bahwa kalian sejatinya adalah tulang belulang ketololan yang dialiri darah dalam selimut kulit dan daging. Kalian tidak akan pernah tau dan tidak akan pernah sadar. Tapi seperti kataku sebelumnya, tulisan ini adalah salah satu caraku menjaga asa dalam menuju bahagia yang kutuju. Tulisan ini adalah sebuah pukulan dalam perkelahianku. Sebuah lacaran serangan dalam pertempuranku. Jika, kalian tak mengerti juga betapa tololnya kalian, tulisan ini hanya meminta kalian secara paksa, sebelum tanganku sendiri yang bekerja, untuk menyingkirkan tubuh-tubuh dari kalian yang tak berguna yang sekonyong-konyong ikut berbaris dalam perangku. Menyingkirlah! Aku tau apa yang perlu dan kalian tak diperlukan sama sekali dalam perangku ini. Jangan campuri perangku!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Ini Aku Menolaknya!