Hari Ini Aku Menolaknya!
Hari ini jelas bahwa masalahku adalah kekuasaan. Luput dari kesadaranku selama ini bahwa kekuasaan yang paling racun, belenggu paling pertama yang harus hancur itu adalah kekuasaan mutlak orang tua atas anaknya. Kau boleh bilang aku tak pandai bersyukur. Aku anak durhaka. Aku tidak peduli. Kenyataanya kita semua adalah korban dari kekuasaan yang pertama itu.
Diam-diam keluarga adalah agen dari kehidupan busuk, tempat kita tinggal sekarang. Butuh kecerdasan luar biasa dan nyali yang tak takut menyuarakan kebenaran untuk menyadarinya dan mengakui kenyataan itu. Awalnya, keluarga di kepalaku hanya sebatas mekanisme pengkaderan agama. Kan begitu, kita adalah partisan dari agama atau aliran spiritualitas tertentu, semuanya berkat keluarga. Tanpa ada kekuasaan apa-apa, semasa bayi merah dulu kita dipaksa menjadi bagian dari salah satunya. Ternyata hari ini jelas di mataku bahwa keluarga lebih luas dari itu. Keluarga lah yang pertama memaksa kita untuk menerima kenyataan pahit bahwa kehidupan ini begitu busuk dan mau tak mau harus kita terima. Keluarga adalah yang paling pertama menentang jika ada niat pemberontakan terhadap kebusukan alam semesta di dalam dada kita. Hari ini aku menolak itu! AKU MENOLAK ITU!
Utang budi adalah ajaran budi pekerti yang paling berbisa dari semua deretan nilai yang dipaksakan kepada kita. Utang budi datang tanpa diminta. Dia menjelma sebagai suatu kesaruan yang mirip-mirip sedekah. Dibungkus dengan wacana keikhlasan dan kerelaan. Namun kenyataanya, begitu si pemberi utang merasa pemberiaan utang budinya harus ditarik hasil, saat itu kita bakal sadar dengan maksudku yang tadi. Betapa utang budi akan melumpuhkan segala daya kebebasan yang kita punya. Menguras keceriaan kita sampai kering. Utang budi, bukan kah utang itu yang ditanggung setiap anak terhadap orang tuanya? Betapa lucu ketika kau berhasil menyadari satu fakta soal utang budi ini. Anak hanyalah aset bagi ibu-bapaknya. Apa yang tidak bernilai modal di jaman kapitalisme ini? Anak tidak akan pernah punya arti saat dewasa. Saat tak mampu memberi limpahan materi kepada orang tuanya. Tenaga? Oh, tenaga bisa beli apa? Cuma kesengsaraan yang bisa diperoleh jika hanya bermodal tenaga. Perhiasan lebih perlu di kehidupan saat ini dari pada membalik tanah sawah dengan cangkul yang dipikul dari rumah.
Kau boleh bilang bahwa orang tuamu tidak begitu. Boleh. Boleh sekali! Tapi kutantang kau menjalani kehidupan yang miskin sebagai pilihan hidupmu. Kau jalani kehidupan yang bahagia cukup dengan punya pakaian, dapat makan dan minum. Coba kau jalani itu! Heh, kau terlalu pengecut untuk menolak kemapanan yang ada. Percuma semua dalil yang kau sajikan di meja perdebatan kita. Selama kemapanan hidup di dunia busuk ini kau sepakati keberadaannya. Kau tak akan pernah bernilai di mataku, jika masih kau bilang orang tuamu tidak seperti apa yang kubilang, dan kau tak mau buktikan dengan cara yang aku tawarkan. Kau hanya satu orang pengecut lain yang kukenal dengan baik. Cobalah menjadi miskin, pengecut! Atau tetaplah tinggal dalam fantasi bahwa orang tuamu tak pernah menuntutmu apa-apa. Ya, kau bisa bilang begitu karena keluargamu hidup dalam limpahan harta yang lebih dari pada cukup. Orang kaya memang selalu tumbuh sebagai najis yang nyata di mataku.
Harusnya aku tau ini sejak kecil dulu. Tuntutan-tuntuan menjadi kaya atau halusnya sukses (kata yang terakhir di belakang selalu menggelitik di perutku menjadi mual) itu, yang memang berperan besar membentuk watakku hari ini. Aku memang darah daging dari pembangkangan. Sudah dari kecil dulu tabiatku suka menjalani yang sebaliknya dari perintah. Pun tuntutan menjadi kaya ini. Kusadari sekarang sebagai sebab, kenapa kehidupan miskin menjadi begitu mulya di mataku. Orang tuaku selalu tau soal ini, tapi mereka tidak pernah mengerti artinya bagiku. Sudah dengan segala cara, kujelaskan kepada mereka tentang kejijikanku kepada kebusukan hidup, selalu hasilnya nihil. Sekarang, aku menolak itu! Aku menolak diriku yang ingin dapat dipahami oleh siapa saja. termasuk mereka berdua (orang tuaku). Lagi pula hasratku yang menuntun keinginan hidup dalam kemiskinan, tidak butuh restu dari siapa-siapa, kan?! Siapa yang peduli dengan orang miskin? Apa yang lebih humor dari pada hidup yang serba munafik di setiap sudutnya??
Kekuasaan dinyatakan dalam bentuk sebuah perintah (order). Kehendakku (will) lebih besar dari pada semua perintah itu. Aku menolaknya! Bagiku tiada yang lain selain diriku sendiri! Hari ini, semakin mantap saja pemahaman itu. Arti tentang kegoisan yang sejatinya harus menjadi dasar dari segala tindak-tanduk dalam mencapai kebahagiaan. Everything is nothing, so there is nothing but me!
What is the opposite of saying thank you? Is it Fuck you? then, fuck you for reading this shit ;)
Diam-diam keluarga adalah agen dari kehidupan busuk, tempat kita tinggal sekarang. Butuh kecerdasan luar biasa dan nyali yang tak takut menyuarakan kebenaran untuk menyadarinya dan mengakui kenyataan itu. Awalnya, keluarga di kepalaku hanya sebatas mekanisme pengkaderan agama. Kan begitu, kita adalah partisan dari agama atau aliran spiritualitas tertentu, semuanya berkat keluarga. Tanpa ada kekuasaan apa-apa, semasa bayi merah dulu kita dipaksa menjadi bagian dari salah satunya. Ternyata hari ini jelas di mataku bahwa keluarga lebih luas dari itu. Keluarga lah yang pertama memaksa kita untuk menerima kenyataan pahit bahwa kehidupan ini begitu busuk dan mau tak mau harus kita terima. Keluarga adalah yang paling pertama menentang jika ada niat pemberontakan terhadap kebusukan alam semesta di dalam dada kita. Hari ini aku menolak itu! AKU MENOLAK ITU!
Utang budi adalah ajaran budi pekerti yang paling berbisa dari semua deretan nilai yang dipaksakan kepada kita. Utang budi datang tanpa diminta. Dia menjelma sebagai suatu kesaruan yang mirip-mirip sedekah. Dibungkus dengan wacana keikhlasan dan kerelaan. Namun kenyataanya, begitu si pemberi utang merasa pemberiaan utang budinya harus ditarik hasil, saat itu kita bakal sadar dengan maksudku yang tadi. Betapa utang budi akan melumpuhkan segala daya kebebasan yang kita punya. Menguras keceriaan kita sampai kering. Utang budi, bukan kah utang itu yang ditanggung setiap anak terhadap orang tuanya? Betapa lucu ketika kau berhasil menyadari satu fakta soal utang budi ini. Anak hanyalah aset bagi ibu-bapaknya. Apa yang tidak bernilai modal di jaman kapitalisme ini? Anak tidak akan pernah punya arti saat dewasa. Saat tak mampu memberi limpahan materi kepada orang tuanya. Tenaga? Oh, tenaga bisa beli apa? Cuma kesengsaraan yang bisa diperoleh jika hanya bermodal tenaga. Perhiasan lebih perlu di kehidupan saat ini dari pada membalik tanah sawah dengan cangkul yang dipikul dari rumah.
Kau boleh bilang bahwa orang tuamu tidak begitu. Boleh. Boleh sekali! Tapi kutantang kau menjalani kehidupan yang miskin sebagai pilihan hidupmu. Kau jalani kehidupan yang bahagia cukup dengan punya pakaian, dapat makan dan minum. Coba kau jalani itu! Heh, kau terlalu pengecut untuk menolak kemapanan yang ada. Percuma semua dalil yang kau sajikan di meja perdebatan kita. Selama kemapanan hidup di dunia busuk ini kau sepakati keberadaannya. Kau tak akan pernah bernilai di mataku, jika masih kau bilang orang tuamu tidak seperti apa yang kubilang, dan kau tak mau buktikan dengan cara yang aku tawarkan. Kau hanya satu orang pengecut lain yang kukenal dengan baik. Cobalah menjadi miskin, pengecut! Atau tetaplah tinggal dalam fantasi bahwa orang tuamu tak pernah menuntutmu apa-apa. Ya, kau bisa bilang begitu karena keluargamu hidup dalam limpahan harta yang lebih dari pada cukup. Orang kaya memang selalu tumbuh sebagai najis yang nyata di mataku.
Harusnya aku tau ini sejak kecil dulu. Tuntutan-tuntuan menjadi kaya atau halusnya sukses (kata yang terakhir di belakang selalu menggelitik di perutku menjadi mual) itu, yang memang berperan besar membentuk watakku hari ini. Aku memang darah daging dari pembangkangan. Sudah dari kecil dulu tabiatku suka menjalani yang sebaliknya dari perintah. Pun tuntutan menjadi kaya ini. Kusadari sekarang sebagai sebab, kenapa kehidupan miskin menjadi begitu mulya di mataku. Orang tuaku selalu tau soal ini, tapi mereka tidak pernah mengerti artinya bagiku. Sudah dengan segala cara, kujelaskan kepada mereka tentang kejijikanku kepada kebusukan hidup, selalu hasilnya nihil. Sekarang, aku menolak itu! Aku menolak diriku yang ingin dapat dipahami oleh siapa saja. termasuk mereka berdua (orang tuaku). Lagi pula hasratku yang menuntun keinginan hidup dalam kemiskinan, tidak butuh restu dari siapa-siapa, kan?! Siapa yang peduli dengan orang miskin? Apa yang lebih humor dari pada hidup yang serba munafik di setiap sudutnya??
Kekuasaan dinyatakan dalam bentuk sebuah perintah (order). Kehendakku (will) lebih besar dari pada semua perintah itu. Aku menolaknya! Bagiku tiada yang lain selain diriku sendiri! Hari ini, semakin mantap saja pemahaman itu. Arti tentang kegoisan yang sejatinya harus menjadi dasar dari segala tindak-tanduk dalam mencapai kebahagiaan. Everything is nothing, so there is nothing but me!
What is the opposite of saying thank you? Is it Fuck you? then, fuck you for reading this shit ;)
Komentar
Posting Komentar